IPB Training Genjot Produktivitas Sawit OKU, 91 Pekebun Dibekali Teknik Modern

Sibernas1.com PALEMBANG —— Transformasi cara bertani menjadi kunci utama dalam meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat. Melalui pelatihan intensif, para pekebun didorong meninggalkan pola tradisional dan beralih ke teknik budidaya modern yang lebih terukur dan berstandar.
Hal ini tercermin dalam Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit Tahun 2026 Angkatan XXI, XXII, dan XXIII yang digelar pada 28 Juli hingga 2 Agustus 2026. Program ini merupakan hasil kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training, dengan diikuti 91 pekebun asal Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).
Kepala Dinas Perkebunan OKU, Joni Saihu, menyebutkan pelatihan ini menjadi bagian dari upaya besar peningkatan kapasitas pekebun. Sepanjang 2026, total 461 pekebun ditargetkan mengikuti program serupa.
Menurutnya, masih banyak pekebun yang mengandalkan metode konvensional, sehingga hasil panen belum optimal. “Dengan pelatihan ini, para peserta diharapkan mampu memahami teknik budidaya yang lebih efektif dan efisien,” katanya.
Ia menekankan bahwa penggunaan bibit unggul saja tidak cukup tanpa diimbangi teknik perawatan yang tepat. Kesalahan dalam pengelolaan kebun dapat membuat potensi produksi tidak tercapai secara maksimal.
Saat ini, luas kebun sawit rakyat di OKU mencapai sekitar 20 ribu hektare dengan rata-rata produksi 2 ton per hektare per bulan. Angka tersebut dinilai masih bisa ditingkatkan.
“Berpotensi naik hingga 10 persen setelah para pekebun menerapkan ilmu yang diperoleh dari pelatihan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, Dian Eka Putra, menegaskan posisi strategis Sumsel sebagai salah satu penopang utama industri sawit nasional dengan luas lahan mencapai sekitar 1,2 juta hektare.
Ia menyebutkan, produktivitas sawit di Sumsel terus mengalami peningkatan, dari sebelumnya sekitar 3,2 ton CPO per hektare per tahun menjadi 3,6 ton. Meski demikian, angka tersebut masih belum mencapai potensi optimal.
Menurut Dian, tantangan industri sawit ke depan tidak hanya pada produksi, tetapi juga tuntutan pasar global terhadap aspek keberlanjutan.
“Oleh karena itu, penerapan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) menjadi hal yang tidak bisa diabaikan,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa peningkatan produksi tidak lagi dapat bergantung pada perluasan lahan, melainkan harus difokuskan pada peningkatan produktivitas melalui teknologi dan kualitas sumber daya manusia.
Di sisi lain, Lead Trainer IPB Training, Suwardi, menjelaskan pelatihan dirancang komprehensif, mulai dari pemahaman dasar hingga praktik teknis di lapangan.
Materi yang diberikan mencakup regulasi perkebunan, teknik pembibitan, hingga pengelolaan lahan mineral.
“Dengan pendekatan tersebut, pekebun diharapkan mampu mengelola kebun secara profesional, meningkatkan hasil panen, sekaligus memenuhi standar industri sawit berkelanjutan,” katanya. (Fitria).




