Asal Usul Hajar Aswad, Batu dari Surga yang di Sering Disalah Artikan… Umat Muslim Wajib Tahu…!

Sibernas1.com Arab Saudi—– Hajar Aswad semulanya berwarna putih. Pernyataan itu di yakini umat Islam berdasarkan riwayat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam sabdanya :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « نَزَلَ الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ »
“Hajar aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam”.
Diriwayat yang lain, batu tersebut lebih putih dari warna salju sebagaimana Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَكَانَ أَشَدَّ بَيَاضاً مِنَ الثَّلْجِ حَتَّى سَوَّدَتْهُ خَطَايَا أَهْلِ الشِّرْكِ.
“Hajar aswad adalah batu dari surga. Batu tersebut lebih putih dari salju. Dosa orang-orang musyriklah yang membuatnya menjadi hitam.”
Untuk diketahui, Hajar aswad adalah batu yang berada pada salah satu sisi ka’bah yang kita disunnhakan untuk menciumnya jika mampu pada salah satu manasik haji dan umrah. Batu ini berwarna hitam karenanya dinamakan sebagai hajar yang berarti batu dan aswad yang berarti hitam.Lalu bagaimana, Batu Hajar Aswad yang diyakini sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim itu banyak disalah artikan sebagai bagian ritual penghapus dosa bagi sebagian orang yang perlu diluruskan.
-
Hadits Penghitam Hajar Aswad:Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad turun dari surga, lebih putih dari susu, lalu dosa anak cucu Adam yang membuatnya hitam.” (HR. Tirmidzi).
-
Hadits Pengampunan Dosa:Menyentuh Hajar Aswad (dan Rukun Yamani) adalah penebus dosa (HR. Tirmidzi).
-
Hadits Kesaksian:Hajar Aswad akan menjadi saksi di hari kiamat bagi mereka yang menyentuhnya dengan tulus (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).
-
Bukan Otomatis:Dosa tidak otomatis terhapus hanya dengan sentuhan, melainkan saat disertai taubat dan niat yang benar.
-
Ittiba’ (Mengikuti Sunnah):Mencium Hajar Aswad adalah bentuk ketaatan mengikuti Nabi SAW, seperti yang dikatakan Umar bin Khattab, “Seandainya aku tidak melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim).
-
Barokah Spiritual:Memberikan penguatan iman dan rasa kedekatan dengan Allah SWT, serta kesempatan memperbarui diri.
-
Adab & Keselamatan:Jangan memaksakan diri atau menyakiti jamaah lain demi mencium Hajar Aswad. Jika terlalu padat, cukup dengan memberi isyarat dari jauh.
-
Fokus Ibadah Utama:Lebih utama menyempurnakan haji/umrah daripada memaksa mencium Hajar Aswad yang bisa mengganggu ibadah wajib.
Mengapa tidak menjadi putih lagi?
Tentu kita bertanya kenapa tidak menjadi putih lagi dengan kebaikan manusia dan tauhid orang-orang yang benar. Jawabannya adalah sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani bahwa Allah telah menetapkan hal ini meskipun Allah mampu mengubahnya.
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,.
اعترض بعض الملحدين على الحديث الماضي فقال ” كيف سودته خطايا المشركين ولم تبيضه طاعات أهل التوحيد ” ؟
وأجيب بما قال ابن قتيبة : لو شاء الله لكان كذلك وإنما أجرى الله العادة بأن السواد يصبغ ولا ينصبغ ، على العكس من البياض .
“ Sebagian orang yang menyimpang menentang hadits ini, mereka berkata: bagaimana bisa hitam karena kesalahan orang musyrik tetapi tidak bisa menjadi putih kembali dengan ketaatan ahli tauhid? Maka di jawab oleh Ibnu Quthaibah, jika saja Allah berkehendak maka bisa saja akan tetapi Allah menetapkan bahwa warna hitam itu memberikan warna bukan terwarnai berkebalikan dengan warna putih”
Al-Muhibb At-Thabari menjelaskan bahwa ini agar menjadi pelajaran bagi manusia dan bias dilihat. Beliau berkata,
ج. وقال المحب الطبري : في بقائه أسود عبرة لمن له بصيرة فإن الخطايا إذا أثرت في الحجر الصلد فتأثيرها في القلب أشد .انظر لهما : ” فتح الباري ” ( 3 / 463 ) .
“Tetap putihnya warna batu adalah sebagai pelajaran, jika saja kesalahan pada batu menjadi keras maka lebih berbekas lagi pada hati.”




