Deflasi di Sumsel Empat Kali Beruntun, Pengamat Ekonomi: Harus Diwaspadai

Sibernas.com, Palembang,–Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan (Sumsel), Sumsel telah mengalami deflasi selama 4 bulan Berturut-turut sejak Juni hingga September 2024.
Kondisi deflasi Sumsel terhitung Juni secara month to month (mom) -0,03 persen, year to date (yod) inflasi 0,64 persen, dan year on year (yoy) inflasi 2,48 persen.
Pada Juli deflasi mtom -0,29 persen, yod 0,35 persen, dan yoy inflasi 1,87 persen.
Agustus deflasi mtom -0,19 persen, yod inflasi 0,16 persen, dan yoy inflasi 1,80 persen.
Begitupun pada update terbaru di
September deflasi mom -0,12 persen, inflasi yod 0,04 persen, dan yoy inflasi 1,40 persen.
Hal ini sejalan dengan perkembangan inflasi di kota Palembang sebagai ibukota Provinsi yang mencatat deflasi sudah berlangsung sejak Juni sebesar -0,07 persen, Juli -0,31 persen, dan Agustus -0,27 persen, September -0,13 persen.
Menurut pengamat Ekonomi Sumsel dari Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) Dr. Sri Rayahu, deflasi secara bulanan dalam 4 bulan beruntun dapat menjadi indikator terjadinya penurunan permintaan atau daya beli masyarakat.
Dengan turunnya daya beli, khususnya masyarakat kelas menengah bisa berdampak serius. Kondisi ini bisa membuat banyaknya kelas menengah yang turun kelas atau rentan miskin.
“Secara negatif, deflasi yang beruntun terjadi bisa mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat,” katanya, Kamis (10/10/2024).
Menurutnya, kemungkinan lainnya karena terjadi penurunan harga. Terjadinya penurunan harga ini banyak sebab. Kalau yang paling nyata karena banyaknya supply.
Kebanyakan supply ini, yang ditakutkan karena adanya ikut-ikutan. Seperti kalau cabe mahal maka banyak yang tanam cabe, sehingga panen tiba supply melimpah harga turun.
“Ini dalam jangka panjang bukan tidak mengkhawatirkan bisa menyebabkan pengangguran,” jelasnya.
Adapun kondisi deflasi Sumsel disebabkan 5 komoditi utama, yaitu penurunan harga cabe merah, telur ayam, tomat, dan BBM. “Komoditi ini merupakan bahan baku yang banyak digunakan,” ujarnya.
Maka peran pertanian bagaimana mengatur pola panen agar tidak serentak. Maka tidak terjadi over supply dan harga tetap stabil. Solusi lainnya dengan sosial teknologi pangan.
“Komoditi yang supply melimpah ketika panen dapat diolah agar harganya stabil, ini harus ada peran serta pemerintah dan stakeholder terkait,” katanya.
Deflasi juga ditakutkan soal kondisi daya beli masyarakat. “Ini bisa juga menjadi indikator daya beli menurun. Kenapa tidak terserap pasar permintaan masyarakat turun, dan pendapatan turun,” tambahnya.
Apalagi di 4 bulan terakhir ini merupakan persiapan orang tua untuk anak masuk sekolah/kuliah sehingga mengutamakan kebutuhan untuk pendidikan dulu, sehingga mengurangi konsumsi.
“Pendidikan tidak bisa ditunda. Sehingga konsumsi yang tidak terlalu penting dikurangi,” katanya.
Deflasi berkepanjangan tentu akan berdampak signifikan terhadap perekonomian dengan dampak peningkatan pengangguran.
“Ketika sektor tersebut mengalami deflasi terus menerus akan mengurangi produksi dan ujung-ujungnya mengurangi tenaga kerja/meningkatkan pengangguran,” jelasnya. (pitria)